UPAYA
MENGURANGI ANGKA PUTUS SEKOLAH
DI SMP NEGERI 1 SELAKAU TIMUR DENGAN
PROGRAM KEMANDIRIAN
KARYA TULIS ILMIAH
OLEH:
- SRI PURWANTI NISN : 9963013076
- FITRI FEBRIANTI NISN : 9972918794
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah SWT yang senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya serta akal pikiran
untuk menggali ilmu-Nya. Sehingga karya tulis dengan judul “Upaya Mengurangi
Angka Putus Sekolah Karena Faktor Keterbatasan Ekonomi di SMP Negeri 1 Selakau
Timur Dengan Program Kemandirian” ini dapat terselesaikan.
Karya
tulis ini memuat tentang bagaimana cara mengurangi angka putus sekolah dengan
program kemandirian. Namun, hal ini harus dikemas sebaik
mungkin aga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga diperlukan
strategi-strategi untuk dapat mengadopsi dan menerapkannya di lingkungan dalam upaya
peningkatan angka rata-rata lama sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur. Terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas
dari bantuan, dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih pada :
1. Supradto, S.Pd.M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA
Negeri 1 Selakau
2. Marlianti, S.Pd selaku guru pembimbing Karya
Tulis Ilmiah bidang pendidikan
3. SMP Negeri 1 Selakau Timur sebagai tempat
pengambilan data dan melakukan observasi.
4. Teman-teman yang telah memberikan banyak
motivasi dalam penyelesaian karya tulis ini.
Dalam penulisan
karya ilmiah ini kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan
dalam penulisan berikutnya. Dan semoga karya tulis ini bermanfaat untuk para
pembaca.
Hormat kami,
Penulis
RINGKASAN
Putus sekolah merupakan faktor yang menentukan
tinggi rendahnya angka rata – rata lama sekolah yang juga akan menentukan
kemajuan suatu daerah. Putus sekolah dapat terjadi karena berbagai faktor, baik
internal maupun eksternal dari diri siswa sendiri seperti faktor ekonomi, kurangnya
minat anak untuk bersekolah, kurangnya perhatian orang tua, ketiadaan prasarana
sekolah, fasilitas belajar yang kurang memadai, budaya, dan faktor lainnya
seperti cacat, IQ yang rendah, rendah diri dan umur yang melampui usia rendah
sekolah. Mayoritas faktor penyebab angka
putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur adalah faktor ekonomi yaitu
bekerja.
Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
cara untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan
program kemandirian yaitu dengan mengetahui latar belakang pendidikan orang tua
yang berhenti sekolah, pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah, dan apa
saja bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka
putus sekolah.
Metode penelitian yang digunakan
untuk karya tulis ini adalah
metode deskriptif dengan bentuk penelitian kuantitatif. Teknik pengumpul data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, komunikasi langsung, dan teknik
studi dokumenter. Sedangkan alat pengumpul data yang digunakan
adalah pedoman wawancara dan lembar data siswa yang berhenti
dan latar belakang pendidikan serta pekerjaan orang tuanya.
Kesimpulan
karya tulis ilmiah ini adalah mayoritas latar belakang pendidikan orang tua
siswa yang putus sekolah adalah sampai jenjang SD dengan latar belakang
pekerjaan sebagai petani. Porgram
kemandirian yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah di
SMP Negeri 1 Selakau timur yaitu dengan: pendidikan muatan lokal (mulok),
promosi hasil olahan siswa dan
pendidikan kewirausahaan.
Untuk
menerapkan program kemandirian bagi siswa di SMP Negeri 1 Selakau Timur
diperlukan dukungan dari berbagai pihak, antara lain: orang tua siswa untuk
selalu memberi dukungan dan motivasi kepada anak agar tetap sekolah, pihak sekolah
dalam melaksanakan program kemandirian berupa pengaplikasian mata pelajaran
mulok yaitu dengan pengolahan hasil pertanian untuk dapat menambah penghasilan
siswa. Serta pemerintah setempat dengan mengadakan penyuluhan dan
pelatihan terhadap masyarakat khususnya
petani untuk mengolah hasil pertanian dari bahan mentah menjadi barang jadi
guna meningkatkan nilai jual agar dapat memperbaiki ekonomi keluarga.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan
suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang
dimilikinya. Semakin berkualitas SDM maka semakin maju dan
sejahtera negara tesebut, sebagai contoh Jepang, Singapura dan Malaysia, dan
lainnya. Sedangkan, kualitas SDM ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dengan demikian
pendidikan yang berkualitas menjadi faktor penting bagi kemajuan suatu negara.
Semakin berkualitas pendidikan maka semakin maju negara dan sebaliknya. Semakin
rendah kualitas pendidikan maka semakin sulit suatu negara akan maju.
Undang-Undang
No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional dengan tegas menggariskan bahwa,
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa”. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 juga dinyatakan bahwa pendidikan
merupakan hak setiap warga negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan demikian sudah sepantasnya setiap warga negara mendapatkan haknya untuk
berpendidikan.Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa
yang akan datang. Pendidikan juga merupakan suatu usaha manusia untuk
membina kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di
dalam masyarakat.
Adanya
program wajib belajar yang mengharuskan anak usia sekolah mendapat pendidikan
yang sesuai minimal sampai jenjang pendidikan tertentu merupakan wujud peran
serta pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dibidang pendidikan.
Wujud
peran pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan lainnya
adalah dengan adanya kebijakan sekolah gratis yaitu dengan adanya dana BOS
(Bantuan Operasional Sekolah).
Hal
ini didukung dengan adanya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia
7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 juga menyebutkan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar
minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam
ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang
diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah
dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta
didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain
yang sederajat.
Dengan
adanya dana BOS, peningkatan Angka Putus Sekolah dirasa sudah tidak sepantasnya
terjadi lagi mengingat dana BOS tersebut sudah sangat memberi keringanan bagi
setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Namun tidaklah mudah
untuk untuk merealisasikan pendidikan
khususnya menuntaskan wajib belajar 9 tahun karena pada kenyataannya, setiap sekolah pasti
menghadapi masalah yang berbeda-beda.
Masalah tersebut sangat berkaitan erat
dengan beberapa faktor, antara lain: keterbatasan dana
pendidikan karena kesulitan ekonomi,kurangnya fasilitas pendidikan , geografis, dan karena adanya faktor lingkungan
(pergaulan). Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan
Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program
wajar 9 tahun. Oleh karena itu, mulai tahun 2009 pemerintah telah melakukan
perubahan tujuan, pendekatan dan orientasi program BOS, dari perluasan akses
menuju peningkatan kualitas.
Salah
satu indikator penuntasan program Wajib Belajar 9 Tahun secara nasional dapat
diukur dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) SD dan SMP. Pada tahun
2005 APK SD telah mencapai 115%, sedangkan SMP pada tahun 2009 telah
mencapai 98,11%, sehingga program wajar 9 tahun telah tuntas 7 tahun lebih awal
dari target deklarasi Education For All (EFA)
di Dakar.
Khusus untuk kabupaten
Sambas, menurut data tahun 2011 bahwa Indeks Pembangunan Manusia sama dengan
65,80 dan menempati urutan ke 13 dari 14 kabupaten di Kalimantan Barat.
Sedangkan Rata – Rata Lama Sekolah (RLS) adalah 6,20 tahun (urutan ke 13 di
Kalbar) yang berarti secara rata – rata masyarakat sambas hanya tamat SD.
SMP
Negeri 1 Selakau Timur sebagai salah satu penyelenggara pendidikan formal juga memegang peranan penting dalam
meningkatkan indeks pembangunan manusia khususnya di Kecamatan Selakau Timur.
Namun demikian masih banyak ditemukan siswa yang putus sekolah.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian di SMP Negeri 1
Selakau Timur sebagai berikut:
Tabel 1
Jumlah Siswa dan Angka Putus Sekolah
NNo
|
Tahun
Pelajaran
|
Jumlah
siswa yang masuk (kelas 7)
|
Jumlah
siswa yang sekolah
|
Jumlah siswa
|
Siswa
yang
Berhenti
|
|
Kelas
8
|
Kelas
9
|
|||||
11
|
2009/2010
|
112
|
96
|
101
|
309
|
-
|
22
|
2010/2011
|
118
|
101
|
94
|
313
|
20
|
33
|
2011/2012
|
120
|
111
|
88
|
319
|
12
|
44
|
2012/2013
|
126
|
118
|
91
|
335
|
27
|
Sumber:
SMP Negeri 1 Selakau Timur
Berdasarkan
diata di atas, didapat perhitungan persentase siswa berhenti sekolah di SMP
Negeri 1 Selakau Timur :
1. Pada
tahun pelajaran 2010/2011, terdapat 20
siswa berhenti dari 313 siswa. Maka persentase nya adalah :

2. Pada tahun pelajaran 2011/2012, terdapat 12
siswa berhenti dari 319 siswa. Maka persentase nya adalah:
3. Pada tahun pelajaran 2012/2013, terdapat 27
siswa berhenti dari 335 siswa. Maka persentase nya adalah:
Dari
3 data di atas, dapat diketahui:
1.
Pada tahun pelajaran 2010/2011 persentase angka putus sekolah nya
adalah 6,39 persen, Pada tahun pelajaran 2011/2012
persentase angka putus sekolah nya adalah 3,76 persen. Maka terjadi penurunan
sebesar 2,6 persen.
2.
Pada tahun pelajaran 2012/2013
persentase angka putus sekolah nya adalah 8,06 persen. Maka terjadi peningkatan
sebesar 4,3 persen.
Penyebab
putus sekolah tersebut ternyata bermacam-macam, baik internal maupun eksternal
dari diri siswa sendiri. Menurut hasil penelitian di SMP Negeri 1 Selakau Timur
alasan siswa berhenti sekolah adalah
sebagai berikut:
Tabel 2
Jumlah Siswa
Yang Berhenti Beserta Alasan
No
|
Tahun pelajaran
|
Jumlah siswa yang berhenti
|
Alasan
siswa berhenti
|
||
Bekerja
|
menikah
|
Lain - lain
|
|||
1
|
2010/2011
|
20
|
12
|
6
|
2
|
2
|
2011/2012
|
12
|
7
|
4
|
1
|
3
|
2012/2013
|
27
|
15
|
8
|
4
|
Jumlah
|
59
|
34
|
18
|
7
|
|
Persentase
|
100%
|
58%
|
31%
|
12%
|
|
Sumber:
SMP Negeri 1 Selakau Timur
Dari data di
atas, didapatkan bahwa mayoritas faktor penyebab angka putus sekolah di SMP
Negeri 1 adalah faktor ekonomi yaitu bekerja (58%). Faktor ini merupakan faktor
yang cukup sulit untuk dipecahkan karena biasanya, jika anak-anak ini sudah
terbiasa memegang uang dalam arti menghasilkan pendapatan, maka mereka akan
menganggap pendidikan itu tak penting. Bahkan secara kultural, juga ada
orangtua yang memang tidak ingin anaknya melanjutkan sekolah karena alasan
tertentu, ini merupakan sebagian dari faktor penyebab anak putus sekolah.
Selanjutnya adalah faktor menikah dini (31%). Faktor ini juga cukup sulit untuk
diatasi mengingat pergaulan remaja yang sudah sangat terbuka. Dan faktor lain
sebesar 12% yang lebih disebabkan karena kurangnya kesadaran dan motivasi baik
dari lingkungan anak maupun keluarga.
Berdasarkan
latar belakang di atas penulis tertarik untuk membahas permasalahan yang
disusun dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul “ Upaya Mengurangi Angka
Putus Sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur Dengan Program Kemandirian ”.
B. Masalah
dan Sub Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
penulis mengangkat masalah utama dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah”Bagaimana
Cara Mengurangi Angka Putus Sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur Dengan
Program Kemandirian? ”.
Mengingat permasalahan utama di
atas terlalu luas bagi peneliti, maka dipandang perlu untuk membatasinya ke
dalam sub - sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
latar belakang pendidikan orang tua yang berhenti sekolah?
2. Bagaimana
pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah?
3. Bagaimanakah
bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus
sekolah?
C. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Penelitian
a. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
cara untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan
program kemandirian.
b. Tujuan
khusus
Bertitik tolak dari permasalahan yang dikemukan
diatas maka penulisan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk:
1) Untuk
mengetahui latar belakang pendidikan orang tua yang berhenti sekolah.
2) Untuk
mengetahui pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah.
3) Untuk
mengetahui bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi
angka putus sekolah.
2. Manfaat
a. Bagi
Penulis
Melalui
penulisan karya tulis ilmiah ini, peneliti secara tidak langsung dapat
mengaplikasikan materi karya ilmiah yang dibuat. Pengalaman yang diperoleh
selama melakukan penelitian dapat menjadi masukan imu yang sangat berguna di
masa depan.
b. Bagi
Bappeda
Dengan
penelitian ini dapat dijadikan rujukan oleh Bappeda sebagai bahan pertimbangan
untuk merancang dan menyusun program pembangunan masyarakat dalam bidang Pendidikan
di Kabupaten Sambas.
c. Bagi
Pembaca
Dengan
penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca terutama bagi penyuluh
pendidikan dan keluarga untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan angka
putus sekolah.
D. Definisi
Operasional
1. Pengertian
Upaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, upaya adalah
usaha;ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan
keluar, dan sebagainya).
2. Pengertian
Mengurangi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengurangi
adalah mengambil (memotong) sebagian.
3. Pengertian
Angka
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, angka adalah
a. Tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan;nomor. b. nilai(kepandaian,
prestasi, dan sebagainya).
4. Pengertian
Putus Sekolah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, putus sekolah
adalah belum sampai tamat sekolahnya sudah keluar
5. Pengertian
di
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, di adalah kata
depan untuk menandai tempat.
6. Pengertian
SMP Negeri 1 Selakau Timur
SMP Negeri 1 Selakau Timur merupakan SMP yang
terletak di desa Seranggam kecamatan
Selakau Timur.
7. Pengertian
Dengan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan adalah
kata penghubung untuk menerangkan cara(bagaimana terjadinya/berlakunya).
8. Pengertian
Program
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, program adalah
rancangan mengenai asas serta usaha (diketatanegaraan, perekonomian, dsb) yang
akan dijalankan.
9. Pengertian
Kemandirian
a. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemandirian adalah hal atau keadaan dapat berdiri
sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
b. Pengertian Kemadirian Menurut Para Ahli
1) Menurut Lamman (1998)
Lamman (1998) menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan
individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan individu untuk mengatur
dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
2) Menurut Sutari Imam Barnadib (dalam Mu’tadin, 2002)
Sutari Imam Barnadib (dalam Mu’tadin, 2002) juga menyatakan bahwa
kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi
hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu
sendiri tanpa bantuan orang lain.
3) Menurut Reber (1985)
Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relative
bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”
10. Kesimpulan
Upaya Mengurangi Angka Putus Sekolah di Smp Negeri 1 Selakau Timur dengan Program
Kemandirian
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa upaya mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan
program kemandirian adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukan untuk mengambil
sebagian atau memotong tingginya suatu
ketidakmampuan untuk menamatkan pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar maupun menengah secara formal di SMP Negeri 1 Selakau
Timur yaitu dengan program kemandirian seperti pendidikan mulok dan pendidikan
kewirausahaan.
TELAAH PUSTAKA
C. Putus Sekolah
1.
Pengertian
Pada masa sekarang ini pendidikan merupakan suatu kebutuhan primer, pendidikan
memegang peranan penting. Pada saat orang – orang berlomba untuk mengenyam
pendidikan setinggi mungkin, tetapi disisi lain ada sebagian masyarakat yang
tidak dapat mengenyam pendidikan secara layak, baik dari tingkat dasar maupun
sampai ke jenjang yang lebih tinggi. selain itu ada juga anggota masyarakat
yang sudah dapat mengenyam pendidikan dasar namun pada akhirnya juga mengalami
putus sekolah.
Putus sekolah (drop out) adalah suatu ketidakmampuan untuk
menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah secara
formal (Depag RI, 2003:4).
2.
Faktor penyebab putus sekolah
Dalam menempuh
pendidikan banyak faktor yang dapat memyebabkan anak putus sekolah. Ada banyak
faktor yang menyebabkan putus sekolah seperti:
i.
Ekonomi
Faktor ekonomi yang dimaksud adalah
ketidakmampuan keluarga untuk membiayai segala proses yang dibutuhkan selama
menempuh pendidikan atau sekolah dalam satu jenjang tertentu.
ii.
Kurangnya minat anak untuk bersekolah
Rendahnya minat anak dapat
disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua, jarak antara tempat tinggal anak
dengan sekolah yang jauh, fasilitas belajar yang kurang, dan pengaruh
lingkungan sekitarnya.
iii.
Kurangnya perhatian orang tua
Rendahnya perhatian orang tua
terhadap anak dapat disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga atau rendahnya
pendapatan orang tua sehingga perhatian orang tua lebih banyak tercurah pada
upaya unutuk memenuhi kebutuhan keluarga.
iv.
Ketiadaan prasarana sekolah
Faktor prasarana yang dimaksud
adalah terkait dengan ketidaktersediaan prasaran pendidikan berupa gedung
sekolah atau alat transportasi dari tempat tinggal siswa dengan sekolah.
v.
Fasilitas belajar yang kurang memadai
Fasilitas belajar yang dimaksud
adalah fasilitas belajar yang tersedia disekolah, misalnya perankat (alat,
bahan, dan media) pembelajaran yang kurang memadai, buku pelajaran kurang
memadai, dan sebagainya.
vi.
Budaya
Faktor budaya yang dimaksudkan
disini adalah terkait dengan kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Yaitu,,
rendanya kesadaran orang tua atau masyarakat akan pentinngnya pendidikan.
vii.
Faktor lainnya seperti cacat, IQ yang
rendah, rendah diri dan umur yang melampui usia rendah sekolah.
D. Pendidikan Kemandirian
Kemandirian merupakan
perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah, mempunyai rasa percaya
diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam
konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri artinya bangsa yang mampu berdiri di
atas kekuatan sendiri dengan segala sumber daya yang dimiliki, mampu memecahkan
persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing
(Barnadib, 2008). Membangun kemandirian bangsa berarti memahami proses
kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan
setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera
dan bermartabat (Hary, 2008).
Faktanya, Indonesia
belum menjadi negara yang mandiri karena masih belum memenuhi indikator bangsa
yang mandiri, terutama di bidang ekonomi. Indikator tersebut berupa indikator
pangan, energi, keuangan, infrastruktur, dan harkat martabat. Dari segi pangan,
Indonesia belum mencapai swasembada pangan sehingga kebutuhannya harus dipenuhi
dengan melakukan impor dari Negara lain. Di bidang energi, kekayaan alam yang
banyak terkandung di bumi ini justru dikuasai oleh asing. Di bidang keuangan,
nilai tukar rupiah bergantung pada nilai uang negara asing. Demikian pula dengan
bidang infrastruktur, sehingga hal ini menjadikan harkat martabat Indonesia
merosot di hadapan dunia internasional (Gusman, 2012).
Jika Indonesia masih ingin menjadi negara yang
mandiri terutama di bidang ekonomi, penyelesaiakan masalah harus dilakukan
bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh semua elemen masyarakat. Memang
sistem globalisasi yang terjadi saat ini tidak bisa terlepas dari kapitalisme
yang hanya memberikan kemakmuran pada segelintir orang. Oleh karena itu, sudah
saatnya pemerintah menumbuhkan kembali semangat ekonomi kerakyatan yang dahulu
pernah dilakukan. Semangat ekonomi kerakyatan adalah sistem yang baik karena
sistem ini dilandasi pada distribusi keadilan baru kemudian kemakmuran, bukan
sebaliknya. Distribusi sumber-sumber ekonomi yang merata akan menciptakan
pendapatan yang merata pula sehingga akan tercipta kemakmuran.
Sebagian besar jumlah penduduk Indonesia masih
berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor
tradisional maupun modern, sehingga mayoritas pelaku ekonomi di Indonesia
adalah Usaha Kecil dan Menengah (Rosid, 2011). Pada Keputusan Presiden RI no.
99 tahun 1998, pengertian usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang
berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan
usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan yang tidak
sehat. Saat ini nampaknya usaha pemerintah pada UKM dan rakyat kecil sudah
terlihat pada program-program yang bersifat pemberdayaan masyarakat. Bank-bank
juga sudah ada yang mengucurkan kredit tanpa agunan. Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (UKM) berupaya memperluas partisipasi masyarakat dalam
kepemilikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan salah satu caranya berupa
menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat. Pemerintah telah menurunkan suku
bunga KUR Mikro dari 24% efektif pertahun menjadi 22%, sedangkan suku bunga KUR
Rhel dari 14% efektif per tahun menjadi 13% (Kementerian Koperasi dan UKM,
2012).
Untuk mempercepat peningkatan
kemandirian masyarakat terutama di bidang ekonomi, pemerintah perlu bersinergi
dan bekerjasama dengan elemen masyarakat, dalam hal ini terutama pemuda karena
seperti yang diketahui bersama bahwa pemuda adalah agen perubahan bangsa dan
generasi penerus. Oleh karena itu, penting pula pemerintah lebih bermitra
dengan pemuda. Tetapi, selain pemerintah perlu bersinergi dan lebih melibatkan
pemuda, dari dalam diri pemuda sendiri perlu lebih peka terhadap permasalahan
masyarakat juga berinisiatif dan berinovasi dalam memberdayakan masyarakat.
Saat ini bidang
pemberdayaan masyarakat yang sudah mulai diminati pengusaha muda
adalah program kewirausahaan sosial (sosial entrepreneurship). Social
entrepreneur adalah orang yang mengerti permasalahan sosial dan
menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan
sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare),
pendidikan dan kesehatan (Santoso, 2007). Menurut Gregory Dees (2009)
kewirausaan sosial merupakan kombinasi dari semangat besar dan misi sosial
dengan disiplin, inovasi, dan keteguhan seperti yang ada dalam dunia bisnis.
Kewirausahaan sosial meliputi aktifitas yang tidak bertujuan mencari laba,
kalaupun mencari laba maka laba yang diberoleh adalah tetap untuk tujuan
sosial, atau kombinasi diantara keduanya. Contoh kewirausahaan sosial yang
menginspirasi para pemuda salah satunya adalah program yang digagas oleh
Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank yang memberikan kredit usaha mikro khusus
bagi kaum perempuan di Bangladesh. selain itu, kewirausahaan sosial berkembang pesat
pula di Inggris saat ini. Kewirausahaan sosial tersebut telah melibatkan
650.000 orang dan 89 % berbasis di perkotaan. Kegiatan bisnis yang dilakukan
mengambil porsi 5 % di tingkat nasional. Telah dilakukan sekitar 170.000
kegiatan amal antara lain baik melalui dukungan pemerintah dan sektor wisata.
Contohnya Kibble Centre yang pada awalnya adalah murni gerakan sosial, tetapi
sejak 1996 mereka memutuskan menjadi wirausaha sosial.
Di Indonesia sendiri,
kewirausahaan sosial lebih banyak digerakan oleh komunitas ataupun perkumpulan
masyarakat yang bersama-sama membentuk unit usaha untuk memperbaiki kondisi
sosial ataupun lingkungan sekitarnya. Kewirausahaan sosial di Indonesia
mempunyai banyak peluang untuk berkembang sehingga upaya untuk mewujudkan hal tersebut
pun harus terus dilakukan. Mengacu pada karakteristik kewirausahaan sosial di
Indonesia yang banyak dimotori oleh komunitas, wirausaha sosial melihat masalah
sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi
pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan permasalahan sosial nan kompleks di
negara kita ini, seperti kemiskinan dan pengangguran, lahirnya para wirausaha
sosial diharapkan menjadi agen perubahan yang ikut memberikan kontribusi
solusi. Perekonomian negara akan bergerak dinamis jika minimal 2 % dari total
penduduk, khususnya kalangan pemuda menjadi wirausaha. Jika jumlah penduduk
kita asumsikan pada kisaran 250 juta, semestinya tumbuh 5 juta wirausaha muda
(Hary, 2011). Kenyataannya saat ini baru ada sekitar 400.000 wirausaha muda
atau dengan kata lain hanya 0,16 % dari jumlah penduduk. Oleh karena itu, perlu
strategi lebih matang jika wacana kewirausahaan sosial sebagai solusi
meningkatkan kemandirian bangsa ingin terus dikembangkan.
Jika kewirausahaan
murni mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya, yaitu keuntungan dan
pendapatan, maka kewirausahaan sosial keberhasilannya diukur dari manfaat yang
dirasakan oleh masyarakat. Sosial entrepreneur sesungguhnya adalah agen
perubahan yang mampu untuk melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki
nilai-nilai sosial, mengenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan,
selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, dan pembelajaran yang
terus menerus, bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan
yang dihadapinya, dan memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil
yang dicapainya kepada masyarakat. Akhir-akhir ini telah terjadi pergeseran
makna kewirausahaan sosial yang semula dianggap hanya kegiatan “non-profit”
menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis. Hal ini menjadi daya tarik
tersendiri bagi dunia bisnis untuk ikut serta dalam kegiatan kewirausahaan
sosial karena ternyata dapat menghasilkan keuntungan finansial. Social
etrepreneurship makin berperan dalam pembangunan ekonomi karena ternyata
mampu memberikan daya cipta nilai-nilai sosial maupun ekonomi, antara lain
menciptakan kesempatan kerja, melakukan inovasi dan kreasi baru terhadap
produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, menjadi modal sosial, dan
peningkatan kesetaraan.
Salah satu tujuan
pembangunan ekonomi adalah terwujudnya kesetaraan dan pemerataan kesejahteraan
masyarakat, dan melalui social entrepreneurship lah tujuan tersebut akan dapat
diwujudkan karena para pelaku bisnis yang semula hanya memikirkan pencapaian
keuntungan yang maksimal selanjutnya akan tergerak pula untuk memikirkan
pemerataan pendapatan agar dapat dilakukan pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan. Berbagai inovasi terhadap jasa kemasyarakatan yang selama ini
tidak tertangani oleh pemerintah dapat dilakukan oleh kelompok kewirausahaan
sosial. Meskipun kewirausahaan sosial ini bukan satu-satunya solusi untuk
meningkatkan kemandirian perekonomian bangsa, namun perlu bahkan harus ada
keberanian untuk memulai membentuk perubahan melalui upaya tersebut.
Kembali ke peran pemuda
dalam memandirikan bangsa, keterlibatan pemuda misalnya para pengusaha muda
dalam kegiatan kewirausahaan sosial ini adalah solusi segar dalam memberdayakan
dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pengusaha pengusaha muda harus
dilahirkan dan dilahirkan secara berkelanjutan agar terjadi pula regenerasi
pengusaha di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah setiap pemuda Indonesia
siap dan mampu menjadi generasi yang ikut terlibat aktif dalam upaya
kewirausahaan sosial ini. karena biar bagaimana pun pertumbuhan jumlah
wirausahawan harus didukung oleh tingkat pengetahuan atau pendidikan yang baik.
Pendidikan penting untuk memberi modal dasar bagi para wirausahawan muda ini.
Salah satunya melalui jalur pendidikan lah pola pikir seseorang dapat diubah
dan ditingkatkan ide dan kreativitasnya.
Peran lembaga
pendidikan, misalnya perguruan tinggi dalam hal ini dapat menjadi jembatan para
pemuda Indonesia untuk berkontribusi dalam upaya ini. perguruan tinggi dapat
memotivasi para mahasiswanya menjadi young entrepreneur, yang merupakan
bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Dengan
meningkatnya wirausahawan dari kalangan mahasiswa atau sarjana akan mengurangi
pengangguran serta menambah jumlah lapangan pekerjaan. Karena bukan
saatnya lagi pemuda mencari pekerjaan yang kondisinya saat ini sudah carut
marut dan banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur.
Lalu, bagaimana dengan
pemuda-pemuda Indonesia yang tidak atau belum memiliki kesempatan mengenyam pendidikan
tinggi? Sampai saat ini, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia, pemuda yang telah mengenyam pendidikan khususnya di perguruan tinggi
baru sekitar 27 % dari total jumlah pemuda Indonesia. Hal ini pula perlu
dipertimbangkan pula bagaimana pemuda yang belum berkesempatan mengenyam
pendidikan ikut berkontribusi dalam membangun kemandirian masyarakat, bila
perlu malah membuat lapangan pekerjaan sendiri. Masalah ini dapat
terselesaikan salah satu caranya dengan memotivasi terus pemuda Indonesia yang
‘beruntung’ untuk menularkan misi kebermanfaatan ini pada pemuda-pemuda sekitar
masyarakat. Misalnya, dicanangkan pada seluruh bidang pengabdian masyarakat di
organisasi intra kampus untuk membuat program pemberdayaan tidak hanya yang
berorientasi sosial, tetapi mengarah pada bentuk kewirausahaan sosial, dengan
sebelumnya melakukan pengkajian yang tepat mengenai sasaran komunitas
masyarakat yang akan diberdayakan. Dalam hal ini, pemuda atau mahasiswa yang
bukan berasal dari rumpun ekonomi pun dapat belajar banyak hal terkait
kewirausahaan sosial. Dengan demikian secara tidak langsung dapat melahirkan
bibit baru aktor kewirausahaan sosial.
Kemudian,
komunitas yang telah menjadi sasaran program pemberdayaan tersebut dilibatkan
secara aktif, disadarkan bahwa seluruh elemen masyarakat yang ada di dalamnya
harus bangkit jika ingin meningkatkan kemandirian ekonomi. Dalam hal ini,
penulis tidak berbicara mengenai langkah pengambilan kebijakan atau
proyek-proyek besar pemerintah, tetapi yang penulis tekankan di sini adalah
pemuda dapat berperan dalam kemandirian bangsa melalui kegiatan yang langsung
bersentuhan atau berinteraksi dengan masyarakat. Para wirausahawan muda atau
mahasiswa yang terlibat dalam program ini dapat ‘membidik’ atau melibatkan
secara lebih aktif pemuda-pemuda dalam komunitas tersebut untuk menjadi aktor
penggerak atau tim inti dari program kewirausahaan sosial ini. Dengan demikian,
meskipun mereka tidak secara formal memahami kewirausahaan sosial,
pemuda-pemuda dalam komunitas tersebut bisa ikut berkontribusi untuk
meningkatkan kemandirian masyarakat/ komunitasnya dengan keterlibatannya yang
aktif dalam program social entrepreneurship.
METODE PENULISAN
A. Teknik dan Alat Pengumpul Data
1. Teknik Pengumpul Data
Dalam penelitian ini di perlukan teknik pengumpulan data yang di
peroleh secara objektif dapat mengungkap masalah yang teliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berkut:
a. Teknik obsevasi langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan cara
meninjau secara langsung ke obyek penelitian, yaitu dengan cara observasi langsung ke SMP Negeri 1 Selakau Timur.
b. Teknik komunikasi langsung adalah cara mengumpulkan data yang
mengharuskan seorang peneliti mengadakan kontak langsung secara lisan atau
tatap muka dengan sumber data baik dalam situasi sebenarnya maupun dalan
situasi sengaja dibuat untuk keperluan tersebut. Dalam hal ini pengumpulan data
di lakukan dengan kontak langsung dengan pihak di SMP Negeri 1 Selakau Timur.
c. Teknik
studi dokumenter adalah cara pengumpulan data dilakukan dengan katagori dan
klasifikasi bahan – bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian,
baik dari sumber dokumen maupun buku. Teknik ini digunakan karena data yang
dikumpulkan adalah data kuantatif melalui dokumen – dokumen tertulis berupa
data siswa yang berhenti dan latar belakang pendidikan serta pekerjaan orang
tua nya.
2. Alat Pengumpul Data
Dalam suatu penelitian hal penting yang harus dilakukan adalah
bagaimana caranya untuk memperoleh data. Oleh sebab itu di perlukan suatu alat
pengumpulan data. Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah :
a. Pedoman wawancara yaitu alat pengumpulan data berupa daftar
pertanyaan yang disajikan pedoman untuk wawancara langsung dengan pihak dari
SMP Negeri 1 Selakau Timur.
b. Lembar daftar siswa yang berhenti dan pendidikan serta pekerjaan
orang tua yaitu alat pengumpulan data berupa daftar jumlah siswa yang
sekolah dan daftar siswa yang berhenti
beserta alasannya serta daftar pendidikan dan pekerjaan orang tua.
B. Pengolahan Data
Untuk mengolah data yang sudah terkumpul melalui dokumen
dianalisis dan diolah secara kuantitas. Dengan menggunakan perhitungan
persentase. Untuk menganalisis data diperlukan langkah-langkah yang ditempuh
agar penulis tidak mengalami kesulitan dalam mengolah data selanjutnya
Adapun rumus umum penghitungan persentase adalah:
Presentase =
Jumlah dicari persentasenya/ jumlah keseluruhan x 100%
Dari
rumus di atas, penulis menyesuaikannya dengan data yang akan dihitung, sehingga
didapat rumus:
Ps = 
Keterangan:
Ps= persentase angka putus sekolah
Sb= siswa berhenti
Js= jumlah seluruh siswa
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Latar
Belakang Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua Siswa
1. Pendidikan
Orang Tua
Tingkat
pendidikan orang tua mempengaruhi sikap pandangnya terhadap sekolah anaknya dan pendidikan pada
umumnya. Ginanjar Kartasasmita menyatakan bahwa 68% kepala keluarga miskin di
perkotaan tidak tamat sd (Ginanjar Kartasasmita: Bisnis Indonesia, 1993).
Faktor pendidikan orang tua sebagai dampak kemiskinan ini sudah barang tentu
berpengaruh terhadap partisipasi mereka terhadap pendidikan. Di SD misalnya,
karena mereka tak pernah merasakan menjadi murid SD banyak lagi contoh lainnya.
Dapat terjadi sikap – sikapnya tidak memberikan dukungan dan bantuan yang seharusnya
terhadap belajar anaknya maupun terhadap sekolah.
Data tersebut di atas umumnya
dialami pula oleh SMP Negeri 1 Selakau Timur. Ada faktor persepsi masyarakat
terhadap sekolah dimana umumnya terjadi di Selakau Timur menganggap sekolah
yang akan menentukan sukses tidaknya seorang peserta didik tanpa mengetahui
faktor pendukung keberhasilan lainnya seperti
masyarakat maupun keluarga itu sendiri, ketidaksamaan visi dan persepsi
ini kemudian membuat keluarga atau orang tua menjadi tidak serius dengan
program sekolah sehingga dengan mudah melakukan pelanggaran yang akan membuat
anak tidak ikut belajar, misalnya mengajak anak bepergian tanpa ada
pemberitahuan ke sekolah dan banyak lagi contoh lainnya.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil
observasi dengan pihak SMP Negeri 1 Selakau Timur mengenai orang tua siswa yang
berhenti yang sebagai berikut:
Tabel 3
Pendidikan Orang Tua Siswa Yang
Berhenti dan Jumlahnya
No
|
Tahun
Pelajaran
|
Jumlah
Siswa Yang Berhenti
|
Pendidikan
Orang Tua Siswa
|
|||
SD
|
SMP
|
SMA
|
PT
|
|||
1
|
2010/2011
|
20
|
9
|
5
|
4
|
2
|
2
|
2011/2012
|
12
|
5
|
4
|
2
|
0
|
3
|
2012/2013
|
27
|
17
|
5
|
3
|
2
|
Sumber:
SMP Negeri 1 Selakau Timur
Keterangan:
PT= Perguruan Tinggi
2. Pekerjaan
orang tua
Kabid Prasekdiksar Disdik Kabupaten
Cirebon, Athoilah S.Pd,M.Pd mengatakan tingginya angka putus sekolah kebanyakan
karena faktor ekonomi. Anak- anak dari keluarga miskin kebanyakan lebih memilih
bekerja membantu orang tuanya dibanding sekolah.
“Ini sebenarnya permasalahan yang
kompleks, saya sendiri tidak hafal mengenai anak putus sekolah. Karena
yang tahu itu di subag pendataan. Tapi anak sd dan smp masih banyak
yang putus sekolah. Sangat disayangkan sekali, karena kan ada dana bos dan
program Beasiswa Siswa Miskin(BSM),” ujar Athoilah.
Ia mengatakan, anak-anak dari orang
tua bermata pencaharian tidak tetap seperti buruh, nelayan dan petani menjadi
salah satu penyebabnya. “ orang tua dari anak – anak kurang mampu ini biasanya
meminta anak – anak mereka bekerja membantu untuk pemenuhan kebutuhan sehari –
hari,” jelas Athoilah. Menurut hasil observasi di SMP Negeri 1 Selakau Timur didapat
data sebagai berikut:
Tabel 4
Pekerjaan Orang
Tua Siswa yang Berhenti dan Jumlahnya
No
|
Tahun
Pelajaran
|
Jumlah
siswa yang berhenti
|
Pekerjaan
Orang Tua Siswa yang Berhenti
|
||
Petani
|
Swasta
|
PNS
|
|||
1
|
2010/2011
|
20
|
13
|
5
|
2
|
2
|
2011/2012
|
12
|
10
|
2
|
-
|
3
|
2012/2013
|
27
|
15
|
9
|
3
|
Sumber: SMP Negeri 1 Selakau
Timur
Dari
2 tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa yang
berhenti adalan dengan pendidikan SD dan pekerjaan sebagai petani.
B. Program
Kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus sekolah.
Berdasarkan
masalah di atas. Adapun Program Kemandirian yang dapat dilakukan untuk
mengurangi angka putus sekolah adalah sebagai berikut:
1. Pemberian
Mata Pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
Pendidikan
muatan lokal merupakan salah satu mata pelajaran tambahan yang wajib
diselenggarakan di tiap sekolah di Indonesia. Kewajiban ini khususnya mengacu
pada peraturan Pemerintah Dinas Pendidikan Nasional (Permen Diknas) No.22 Tahun
2006 Tentang standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP
ditegaskan selain memuat mata pelajaran juga memuat lokal yang wajib diberikan
pada tiasp tingkat satuan pendidikan.
Pelajaran
mulok tersebut sebenarnya bukanlah pelajaran baru di dunia pendidikan di
Indonesia. Adapun pelajaran mulok yang sesuai untuk dipelajari di SMP Negeri 1
Selakau Timur menurut penulis antara lain: agro bisnis yaitu mengolah bahan
mentah dari hasil pertanian bahan mentah menjadi barang jadi, dan cara
pengepakan yang benar sehingga mampu meningkatkan nilai jual bahan tersebut.
2. Promosi
Terhadap Hasil Olahan Siswa
Setelah memproduksi sebuah barang,
hal yang selanjutnya dapat dilakukan adalah dengan promosi. Promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau
menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli atau mengkonsumsinya. Dengan adanya promosi, produsen atau distributor mengharapkan
kenaikannya angka penjualan.
Promosi dapat dilakukan antara lain dengan:
a. Disampaikan dari
mulut ke mulut
b. Mengadakan
bazar di sekolah
c. Penitipan
ke toko – toko terdekat
d. Dibuatkan
merk dagang
e. Promosi
lewat online
3. Pendidikan
Kewirausahaan
Mata
pelajaran ini memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan
kemampuan yang dianggap perlu oleh siswa untuk memperbaiki ekonominya. Oleh karena
itu mata pelajaran muatan lokal harus memuat bagaimana cara pengolahan hasil
pertanian dan mengangkat permasalahan ekonomi dan lingkungan yang pada akhirnya
mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dasar (life skill), sebagai
bekal dalam kehidupan sehingga dapat memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya.
Adapun contoh model kegiatan kewirausahaan yang bisa dilakukan siswa adalah
dengan bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memasarkan hasil produksinya
salah satunya dengan cara bagi hasil. Dengan cara bagi hasil, pihak sekolah mendapatkan bagian sekitar 20%
sedangkan siswa tersebut mendapat 80 %. Dari
hasil penjualan tersebut dapat digunakan sebagai uang jajan dan
keperluan lainnya tanpa harus meminta kepada orang tuanya, sehingga dapat
meringankan beban orang tua.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Mayoritas
latar belakang pendidikan orang tua siswa yang putus sekolah adalah sampai
jenjang SD.
2. Mayoritas
latar belakang pekerjaan orang tua siswa yang putus sekolah adalah sebagai
petani.
3. Program
Kemandirian yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP
Negeri 1 Selakau timur yaitu dengan: pendidikan muatan lokal (mulok), promosi
hasil olahan siswa dan pendidikan
kewirausahaan.
B. Saran
1. Bagi orang tua siswa hendaknya selalu memberi
dukungan dan motivasi kepada anak agar tetap sekolah.
2. Bagi
sekolah hendaknya melaksanakan program kemandirian berupa pengaplikasian mata
pelajaran mulok yaitu dengan pengolahan hasil pertanian untuk dapat menambah
penghasilan siswa.
3. Bagi
pemerintah setempat hendaknya mengadakan penyuluhan dan pelatihan terhadap masyarakat khususnya petani untuk
mengolah hasil pertanian dari bahan mentah menjadi barang jadi guna
meningkatkan nilai jual agar dapat memperbaiki ekonomi keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
http://lubbna.wordpress.com/2012/11/07/social-entrepreneurship-ruang-pemuda-memandirikan-bangsa/,
diakses
pada tanggal 7 Juni 2013.
http://rumushitung.com/2012/12/10/cara-menghitung
persentase/#sthash.wTG1ll1P.dpuf,
diakses pada tanggal
8 Juni 2013.
http://skripsigratis83.blogspot.com/2012/09/strategi-penanggulangan-anak-putus.html,
diakses
pada tanggal 10 juni 2013.
http://www.psychologymania.com/2013/02/pengertian-kemandirian.html,
diakses
pada tanggal 12 Juni 2013.
http://economy.okezone.com/read/2013/02/26/219/767916/cara-sukses-tingkatkan-penjualan-produk,
diakses pada tanggal 12 Juni 2013.
Bappeda
Sambas
Panduan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Pelajar SLTA Se-Kabupaten Sambas tahun
2013 Bappeda Sambas.
Yuda
Dwi Candra Kartika 2010 Penyebab Anak – Anak Putus Sekolah Dan Cara
Penanggulangannya www.pdfcrawler.com/102981/wajib-belajar-sembilan-tahun.html,
diakses pada tanggal 13 Juni 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar