Jumat, 17 Juni 2016

UPAYA MENGURANGI ANGKA PUTUS SEKOLAH DI SMP NEGERI 1 SELAKAU TIMUR DENGAN PROGRAM KEMANDIRIAN




UPAYA MENGURANGI ANGKA PUTUS SEKOLAH
 DI SMP NEGERI 1 SELAKAU TIMUR DENGAN
 PROGRAM KEMANDIRIAN
KARYA TULIS ILMIAH



OLEH:
  1. SRI PURWANTI                   NISN : 9963013076
  2. FITRI FEBRIANTI               NISN : 9972918794
                       
KATA PENGANTAR
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya serta akal pikiran untuk menggali ilmu-Nya. Sehingga karya tulis dengan judul “Upaya Mengurangi Angka Putus Sekolah Karena Faktor Keterbatasan Ekonomi di SMP Negeri 1 Selakau Timur Dengan Program Kemandirian” ini dapat terselesaikan.
            Karya tulis ini memuat tentang bagaimana cara mengurangi angka putus sekolah dengan program kemandirian. Namun, hal ini harus dikemas sebaik mungkin aga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga diperlukan strategi-strategi untuk dapat mengadopsi  dan menerapkannya di lingkungan dalam upaya peningkatan angka rata-rata lama sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur. Terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas dari bantuan, dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih pada :
1.    Supradto, S.Pd.M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Selakau
2.    Marlianti, S.Pd selaku guru pembimbing Karya Tulis Ilmiah bidang pendidikan
3.    SMP Negeri 1 Selakau Timur sebagai tempat pengambilan data dan melakukan observasi.
4.    Teman-teman yang telah memberikan banyak motivasi dalam penyelesaian karya tulis ini.
Dalam penulisan karya ilmiah ini kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan dalam penulisan berikutnya. Dan semoga karya tulis ini bermanfaat untuk para pembaca.
Hormat kami,
 Penulis




RINGKASAN
Putus sekolah merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya angka rata – rata lama sekolah yang juga akan menentukan kemajuan suatu daerah. Putus sekolah dapat terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal dari diri siswa sendiri seperti faktor ekonomi, kurangnya minat anak untuk bersekolah, kurangnya perhatian orang tua, ketiadaan prasarana sekolah, fasilitas belajar yang kurang memadai, budaya, dan faktor lainnya seperti cacat, IQ yang rendah, rendah diri dan umur yang melampui usia rendah sekolah. Mayoritas  faktor penyebab angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur adalah faktor ekonomi yaitu bekerja.
Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan program kemandirian yaitu dengan mengetahui latar belakang pendidikan orang tua yang berhenti sekolah, pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah, dan apa saja bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus sekolah.
Metode penelitian yang digunakan untuk karya tulis ini adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian kuantitatif. Teknik pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik  observasi, komunikasi langsung, dan teknik studi dokumenter. Sedangkan alat pengumpul data yang digunakan adalah pedoman wawancara dan lembar data siswa yang berhenti dan latar belakang pendidikan serta pekerjaan orang tuanya.
Kesimpulan karya tulis ilmiah ini adalah mayoritas latar belakang pendidikan orang tua siswa yang putus sekolah adalah sampai jenjang SD dengan latar belakang pekerjaan sebagai petani. Porgram  kemandirian yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau timur yaitu dengan: pendidikan muatan lokal (mulok), promosi hasil olahan siswa dan  pendidikan kewirausahaan.
Untuk menerapkan program kemandirian bagi siswa di SMP Negeri 1 Selakau Timur diperlukan dukungan dari berbagai pihak, antara lain: orang tua siswa untuk selalu memberi dukungan dan motivasi kepada anak agar tetap sekolah, pihak sekolah dalam melaksanakan program kemandirian berupa pengaplikasian mata pelajaran mulok yaitu dengan pengolahan hasil pertanian untuk dapat menambah penghasilan siswa. Serta pemerintah setempat dengan mengadakan penyuluhan dan pelatihan  terhadap masyarakat khususnya petani untuk mengolah hasil pertanian dari bahan mentah menjadi barang jadi guna meningkatkan nilai jual agar dapat  memperbaiki ekonomi keluarga.







BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya.  Semakin berkualitas SDM maka  semakin maju dan sejahtera negara tesebut, sebagai contoh Jepang, Singapura dan Malaysia, dan lainnya. Sedangkan, kualitas SDM ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dengan demikian pendidikan yang berkualitas menjadi faktor penting bagi kemajuan suatu negara. Semakin berkualitas pendidikan maka semakin maju negara dan sebaliknya. Semakin rendah kualitas pendidikan maka semakin sulit suatu negara akan maju.
Undang-Undang No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional dengan tegas menggariskan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 juga dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian sudah sepantasnya setiap warga negara mendapatkan haknya untuk berpendidikan.Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan juga merupakan suatu usaha manusia untuk membina  kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyarakat.
Adanya program wajib belajar yang mengharuskan anak usia sekolah mendapat pendidikan yang sesuai minimal sampai jenjang pendidikan tertentu merupakan wujud peran serta pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dibidang pendidikan.
Wujud peran pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan lainnya adalah dengan adanya kebijakan sekolah gratis yaitu dengan adanya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Hal ini didukung dengan adanya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 juga menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.
Dengan adanya dana BOS, peningkatan Angka Putus Sekolah dirasa sudah tidak sepantasnya terjadi lagi mengingat dana BOS tersebut sudah sangat memberi keringanan bagi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Namun tidaklah mudah untuk  untuk merealisasikan pendidikan khususnya menuntaskan wajib belajar 9 tahun karena  pada kenyataannya, setiap sekolah pasti menghadapi  masalah yang berbeda-beda. Masalah  tersebut sangat berkaitan erat dengan beberapa faktor, antara lain: keterbatasan dana pendidikan karena kesulitan ekonomi,kurangnya fasilitas pendidikan , geografis, dan karena adanya faktor lingkungan (pergaulan). Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program wajar 9 tahun. Oleh karena itu, mulai tahun 2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas.
Salah satu indikator penuntasan program Wajib Belajar 9 Tahun secara nasional dapat diukur dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) SD dan SMP.  Pada tahun 2005  APK SD telah mencapai 115%, sedangkan SMP pada tahun 2009 telah mencapai 98,11%, sehingga program wajar 9 tahun telah tuntas 7 tahun lebih awal dari target deklarasi Education For All (EFA) di Dakar.
Khusus untuk kabupaten Sambas, menurut data tahun 2011 bahwa Indeks Pembangunan Manusia sama dengan 65,80 dan menempati urutan ke 13 dari 14 kabupaten di Kalimantan Barat. Sedangkan Rata – Rata Lama Sekolah (RLS) adalah 6,20 tahun (urutan ke 13 di Kalbar) yang berarti secara rata – rata masyarakat sambas hanya tamat SD.
SMP Negeri 1 Selakau Timur sebagai salah satu penyelenggara pendidikan formal  juga memegang peranan penting dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia khususnya di Kecamatan Selakau Timur. Namun demikian masih banyak ditemukan siswa yang putus sekolah.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian di SMP Negeri 1 Selakau Timur sebagai berikut:
Tabel 1
Jumlah Siswa dan Angka Putus Sekolah
NNo
Tahun
Pelajaran
Jumlah siswa yang masuk (kelas 7)
Jumlah siswa yang sekolah
Jumlah       siswa
Siswa yang
Berhenti
Kelas 8
Kelas 9
11
2009/2010
112
96
101
309
-
22
2010/2011
118
101
94
313
20
33
2011/2012
120
111
88
319
12
44
2012/2013
126
118
91
335
27
Sumber: SMP Negeri 1 Selakau Timur

Berdasarkan diata di atas, didapat perhitungan persentase siswa berhenti sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur :
1.    Pada tahun pelajaran  2010/2011, terdapat 20 siswa berhenti dari 313 siswa. Maka persentase nya adalah :
2.      Pada tahun pelajaran 2011/2012, terdapat 12 siswa berhenti dari 319 siswa. Maka persentase nya adalah:
100
3.      Pada tahun pelajaran 2012/2013, terdapat 27 siswa berhenti dari 335 siswa. Maka persentase nya adalah:

Dari 3 data di atas, dapat diketahui:
1.        Pada tahun pelajaran  2010/2011 persentase angka putus sekolah nya adalah 6,39 persen, Pada tahun pelajaran 2011/2012 persentase angka putus sekolah nya adalah 3,76 persen. Maka terjadi penurunan sebesar 2,6 persen.
2.        Pada tahun pelajaran 2012/2013 persentase angka putus sekolah nya adalah 8,06 persen. Maka terjadi peningkatan sebesar 4,3 persen.
Penyebab putus sekolah tersebut ternyata bermacam-macam, baik internal maupun eksternal dari diri siswa sendiri. Menurut hasil penelitian di SMP Negeri 1 Selakau Timur  alasan siswa berhenti sekolah adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Jumlah Siswa Yang Berhenti Beserta Alasan
No
Tahun pelajaran
Jumlah siswa yang berhenti
Alasan siswa berhenti
Bekerja
menikah
Lain - lain
1
2010/2011
20
12
6
2
2
2011/2012
12
7
4
1
3
2012/2013
27
15
8
4
Jumlah
59
34
18
7
Persentase
100%
58%
31%
12%
Sumber: SMP Negeri 1 Selakau Timur

Dari data di atas, didapatkan bahwa mayoritas faktor penyebab angka putus sekolah di SMP Negeri 1 adalah faktor ekonomi yaitu bekerja (58%). Faktor ini merupakan faktor yang cukup sulit untuk dipecahkan karena biasanya, jika anak-anak ini sudah terbiasa memegang uang dalam arti menghasilkan pendapatan, maka mereka akan menganggap pendidikan itu tak penting. Bahkan secara kultural, juga ada orangtua yang memang tidak ingin anaknya melanjutkan sekolah karena alasan tertentu, ini merupakan sebagian dari faktor penyebab anak putus sekolah. Selanjutnya adalah faktor menikah dini (31%). Faktor ini juga cukup sulit untuk diatasi mengingat pergaulan remaja yang sudah sangat terbuka. Dan faktor lain sebesar 12% yang lebih disebabkan karena kurangnya kesadaran dan motivasi baik dari lingkungan anak maupun keluarga.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk membahas permasalahan yang disusun dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul “ Upaya Mengurangi Angka Putus Sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur Dengan Program Kemandirian  ”.
B.  Masalah dan  Sub Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengangkat masalah utama dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah”Bagaimana Cara Mengurangi Angka Putus Sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur Dengan Program Kemandirian? ”.
Mengingat permasalahan utama di atas terlalu luas bagi peneliti, maka dipandang perlu untuk membatasinya ke dalam sub - sub masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana latar belakang pendidikan orang tua yang berhenti sekolah?
2.    Bagaimana pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah?
3.    Bagaimanakah bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus sekolah?
C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
a.     Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan program kemandirian.

b.    Tujuan khusus
Bertitik tolak dari permasalahan yang dikemukan diatas maka penulisan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk:
1)   Untuk mengetahui latar belakang pendidikan orang tua yang berhenti sekolah.
2)   Untuk mengetahui pekerjaan orang tua siswa yang berhenti sekolah.
3)   Untuk mengetahui bentuk program kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus sekolah.
2.   Manfaat
a.    Bagi Penulis
Melalui penulisan karya tulis ilmiah ini, peneliti secara tidak langsung dapat mengaplikasikan materi karya ilmiah yang dibuat. Pengalaman yang diperoleh selama melakukan penelitian dapat menjadi masukan imu yang sangat berguna di masa depan.
b.    Bagi Bappeda
Dengan penelitian ini dapat dijadikan rujukan oleh Bappeda sebagai bahan pertimbangan untuk merancang dan menyusun program pembangunan masyarakat dalam bidang Pendidikan di Kabupaten Sambas.
c.    Bagi Pembaca
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca terutama bagi penyuluh pendidikan dan keluarga untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan angka putus sekolah.

D.  Definisi Operasional
1.   Pengertian Upaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, upaya adalah usaha;ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).
2.   Pengertian Mengurangi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengurangi adalah mengambil (memotong) sebagian.

3.   Pengertian Angka
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, angka adalah a. Tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan;nomor. b. nilai(kepandaian, prestasi, dan sebagainya).
4.   Pengertian Putus Sekolah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, putus sekolah adalah belum sampai tamat sekolahnya sudah keluar
5.   Pengertian di
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, di adalah kata depan untuk menandai tempat.
6.   Pengertian SMP Negeri 1 Selakau Timur
SMP Negeri 1 Selakau Timur merupakan SMP yang terletak di desa Seranggam  kecamatan Selakau Timur.
7.      Pengertian Dengan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan adalah kata penghubung untuk menerangkan cara(bagaimana terjadinya/berlakunya).
8.      Pengertian Program
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, program adalah rancangan mengenai asas serta usaha (diketatanegaraan, perekonomian, dsb) yang akan dijalankan.
9.      Pengertian Kemandirian
a.    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemandirian adalah hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
b.    Pengertian Kemadirian Menurut Para Ahli
1)   Menurut Lamman (1998)
Lamman (1998) menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain. menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
2)   Menurut Sutari Imam Barnadib (dalam Mu’tadin, 2002)
Sutari Imam Barnadib (dalam Mu’tadin, 2002) juga menyatakan bahwa kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
3)   Menurut Reber (1985)
Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relative bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”
10.  Kesimpulan Upaya Mengurangi Angka Putus Sekolah di Smp Negeri 1 Selakau Timur dengan Program Kemandirian
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa upaya mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau Timur dengan program kemandirian adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukan untuk mengambil sebagian  atau memotong tingginya suatu ketidakmampuan untuk menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah secara formal di SMP Negeri 1 Selakau Timur yaitu dengan program kemandirian seperti pendidikan mulok dan pendidikan kewirausahaan.




BAB II
TELAAH PUSTAKA
C.  Putus Sekolah
1.    Pengertian
Pada masa sekarang ini pendidikan  merupakan suatu kebutuhan primer, pendidikan memegang peranan penting. Pada saat orang – orang berlomba untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, tetapi disisi lain ada sebagian masyarakat yang tidak dapat mengenyam pendidikan secara layak, baik dari tingkat dasar maupun sampai ke jenjang yang lebih tinggi. selain itu ada juga anggota masyarakat yang sudah dapat mengenyam pendidikan dasar namun pada akhirnya juga mengalami putus sekolah.
Putus sekolah (drop out) adalah suatu ketidakmampuan untuk menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah secara formal (Depag RI, 2003:4).
2.    Faktor penyebab putus sekolah
Dalam menempuh pendidikan banyak faktor yang dapat memyebabkan anak putus sekolah. Ada banyak faktor yang menyebabkan putus sekolah seperti:
                    i.          Ekonomi
Faktor ekonomi yang dimaksud adalah ketidakmampuan keluarga untuk membiayai segala proses yang dibutuhkan selama menempuh pendidikan atau sekolah dalam satu jenjang tertentu.
                  ii.          Kurangnya minat anak untuk bersekolah
Rendahnya minat anak dapat disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua, jarak antara tempat tinggal anak dengan sekolah yang jauh, fasilitas belajar yang kurang, dan pengaruh lingkungan sekitarnya.
                iii.          Kurangnya perhatian orang tua
Rendahnya perhatian orang tua terhadap anak dapat disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga atau rendahnya pendapatan orang tua sehingga perhatian orang tua lebih banyak tercurah pada upaya unutuk memenuhi kebutuhan keluarga.
                iv.          Ketiadaan prasarana sekolah
Faktor prasarana yang dimaksud adalah terkait dengan ketidaktersediaan prasaran pendidikan berupa gedung sekolah atau alat transportasi dari tempat tinggal siswa dengan sekolah.
                  v.          Fasilitas belajar yang kurang memadai
Fasilitas belajar yang dimaksud adalah fasilitas belajar yang tersedia disekolah, misalnya perankat (alat, bahan, dan media) pembelajaran yang kurang memadai, buku pelajaran kurang memadai, dan sebagainya.
                vi.          Budaya
Faktor budaya yang dimaksudkan disini adalah terkait dengan kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Yaitu,, rendanya kesadaran orang tua atau masyarakat akan pentinngnya pendidikan.
              vii.          Faktor lainnya seperti cacat, IQ yang rendah, rendah diri dan umur yang melampui usia rendah sekolah.

D.  Pendidikan Kemandirian
Kemandirian merupakan perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri artinya bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan segala sumber daya yang dimiliki, mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing (Barnadib, 2008). Membangun kemandirian bangsa berarti memahami proses kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat (Hary, 2008).
Faktanya, Indonesia belum menjadi negara yang mandiri karena masih belum memenuhi indikator bangsa yang mandiri, terutama di bidang ekonomi. Indikator tersebut berupa indikator pangan, energi, keuangan, infrastruktur, dan harkat martabat. Dari segi pangan, Indonesia belum mencapai swasembada pangan sehingga kebutuhannya harus dipenuhi dengan melakukan impor dari Negara lain. Di bidang energi, kekayaan alam yang banyak terkandung di bumi ini justru dikuasai oleh asing. Di bidang keuangan, nilai tukar rupiah bergantung pada nilai uang negara asing. Demikian pula dengan bidang infrastruktur, sehingga hal ini menjadikan harkat martabat Indonesia merosot di hadapan  dunia internasional (Gusman, 2012).  
Jika Indonesia masih ingin menjadi negara yang mandiri terutama di bidang ekonomi, penyelesaiakan masalah harus dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh semua elemen masyarakat. Memang sistem globalisasi yang terjadi saat ini tidak bisa terlepas dari kapitalisme yang hanya memberikan kemakmuran pada segelintir orang. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah menumbuhkan kembali semangat ekonomi kerakyatan yang dahulu pernah dilakukan. Semangat ekonomi kerakyatan adalah sistem yang baik karena sistem ini dilandasi pada distribusi keadilan baru kemudian kemakmuran, bukan sebaliknya. Distribusi sumber-sumber ekonomi yang merata akan menciptakan pendapatan yang merata pula sehingga akan tercipta kemakmuran.
Sebagian besar jumlah penduduk Indonesia masih berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern, sehingga mayoritas pelaku ekonomi di Indonesia adalah Usaha Kecil dan Menengah (Rosid, 2011). Pada Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998, pengertian usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan yang tidak sehat. Saat ini nampaknya usaha pemerintah pada UKM dan rakyat kecil sudah terlihat pada program-program yang bersifat pemberdayaan masyarakat. Bank-bank juga sudah ada yang mengucurkan kredit tanpa agunan. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) berupaya memperluas partisipasi masyarakat dalam kepemilikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan salah satu caranya berupa menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat. Pemerintah telah menurunkan suku bunga KUR Mikro dari 24% efektif pertahun menjadi 22%, sedangkan suku bunga KUR Rhel dari 14% efektif per tahun menjadi 13% (Kementerian Koperasi dan UKM, 2012).
Untuk mempercepat peningkatan kemandirian masyarakat terutama di bidang ekonomi, pemerintah perlu bersinergi dan bekerjasama dengan elemen masyarakat, dalam hal ini terutama pemuda karena seperti yang diketahui bersama bahwa pemuda adalah agen perubahan bangsa dan generasi penerus. Oleh karena itu, penting pula pemerintah lebih bermitra dengan pemuda. Tetapi, selain pemerintah perlu bersinergi dan lebih melibatkan pemuda, dari dalam diri pemuda sendiri perlu lebih peka terhadap permasalahan masyarakat juga berinisiatif dan berinovasi dalam memberdayakan masyarakat.
Saat ini bidang pemberdayaan masyarakat yang sudah mulai diminati pengusaha muda   adalah program kewirausahaan sosial (sosial entrepreneurship). Social entrepreneur adalah orang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship  untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (Santoso, 2007). Menurut Gregory Dees (2009) kewirausaan sosial merupakan kombinasi dari semangat besar dan misi sosial dengan disiplin, inovasi, dan keteguhan seperti yang ada dalam dunia bisnis. Kewirausahaan sosial meliputi aktifitas yang tidak bertujuan mencari laba, kalaupun mencari laba maka laba yang diberoleh adalah tetap untuk tujuan sosial, atau kombinasi diantara keduanya. Contoh kewirausahaan sosial yang menginspirasi para pemuda salah satunya adalah program yang digagas oleh Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank yang memberikan kredit usaha mikro khusus bagi kaum perempuan di Bangladesh. selain itu, kewirausahaan sosial berkembang pesat pula di Inggris saat ini. Kewirausahaan sosial tersebut telah melibatkan 650.000 orang dan 89 % berbasis di perkotaan. Kegiatan bisnis yang dilakukan mengambil porsi 5 % di tingkat nasional. Telah dilakukan sekitar 170.000 kegiatan amal antara lain baik melalui dukungan pemerintah dan sektor wisata. Contohnya Kibble Centre yang pada awalnya adalah murni gerakan sosial, tetapi sejak 1996 mereka memutuskan menjadi wirausaha sosial.
Di Indonesia sendiri, kewirausahaan sosial lebih banyak digerakan oleh komunitas ataupun perkumpulan masyarakat yang bersama-sama membentuk unit usaha untuk memperbaiki kondisi sosial ataupun lingkungan sekitarnya. Kewirausahaan sosial di Indonesia mempunyai banyak peluang untuk berkembang sehingga upaya untuk mewujudkan hal tersebut pun harus terus dilakukan. Mengacu pada karakteristik kewirausahaan sosial di Indonesia yang banyak dimotori oleh komunitas, wirausaha sosial melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan permasalahan sosial nan kompleks di negara kita ini, seperti kemiskinan dan pengangguran, lahirnya para wirausaha sosial diharapkan menjadi agen perubahan yang ikut memberikan kontribusi solusi. Perekonomian negara akan bergerak dinamis jika minimal 2 % dari total penduduk, khususnya kalangan pemuda menjadi wirausaha. Jika jumlah penduduk kita asumsikan pada kisaran 250 juta, semestinya tumbuh 5 juta wirausaha muda (Hary, 2011). Kenyataannya saat ini baru ada sekitar 400.000 wirausaha muda atau dengan kata lain hanya 0,16 % dari jumlah penduduk. Oleh karena itu, perlu strategi lebih matang jika wacana kewirausahaan sosial sebagai solusi meningkatkan kemandirian bangsa ingin terus dikembangkan.
Jika kewirausahaan murni mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya, yaitu keuntungan dan pendapatan, maka kewirausahaan sosial keberhasilannya diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Sosial entrepreneur sesungguhnya adalah agen perubahan yang mampu untuk melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki nilai-nilai sosial, mengenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan, selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, dan pembelajaran yang terus menerus, bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan yang dihadapinya, dan memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapainya kepada masyarakat. Akhir-akhir ini telah terjadi pergeseran makna kewirausahaan sosial yang semula dianggap hanya kegiatan “non-profit” menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia bisnis untuk ikut serta dalam kegiatan kewirausahaan sosial karena ternyata dapat menghasilkan keuntungan finansial. Social etrepreneurship makin berperan dalam pembangunan ekonomi karena ternyata mampu memberikan daya cipta nilai-nilai sosial maupun ekonomi, antara lain menciptakan kesempatan kerja, melakukan inovasi dan kreasi baru terhadap produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, menjadi modal sosial, dan peningkatan kesetaraan.
Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah terwujudnya kesetaraan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan melalui social entrepreneurship lah tujuan tersebut akan dapat diwujudkan karena para pelaku bisnis yang semula hanya memikirkan pencapaian keuntungan yang maksimal selanjutnya akan tergerak pula untuk memikirkan pemerataan pendapatan agar dapat dilakukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Berbagai inovasi terhadap jasa kemasyarakatan yang selama ini tidak tertangani oleh pemerintah dapat dilakukan oleh kelompok kewirausahaan sosial. Meskipun kewirausahaan sosial ini bukan satu-satunya solusi untuk meningkatkan kemandirian perekonomian bangsa, namun perlu bahkan harus ada keberanian untuk memulai membentuk perubahan melalui upaya tersebut.
Kembali ke peran pemuda dalam memandirikan bangsa, keterlibatan pemuda misalnya para pengusaha muda dalam kegiatan kewirausahaan sosial ini adalah solusi segar dalam memberdayakan dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pengusaha pengusaha muda harus dilahirkan dan dilahirkan secara berkelanjutan agar terjadi pula regenerasi pengusaha di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah setiap pemuda Indonesia siap dan mampu menjadi generasi yang ikut terlibat aktif dalam upaya kewirausahaan sosial ini. karena biar bagaimana pun pertumbuhan jumlah wirausahawan harus didukung oleh tingkat pengetahuan atau pendidikan yang baik. Pendidikan penting untuk memberi modal dasar bagi para wirausahawan muda ini. Salah satunya melalui jalur pendidikan lah pola pikir seseorang dapat diubah dan ditingkatkan ide dan kreativitasnya.
Peran lembaga pendidikan, misalnya perguruan tinggi dalam hal ini dapat menjadi jembatan para pemuda Indonesia untuk berkontribusi dalam upaya ini. perguruan tinggi dapat memotivasi para mahasiswanya menjadi young entrepreneur, yang merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan mahasiswa atau sarjana akan mengurangi pengangguran  serta menambah jumlah lapangan pekerjaan. Karena bukan saatnya lagi pemuda mencari pekerjaan yang kondisinya saat ini sudah carut marut dan banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur.
Lalu, bagaimana dengan pemuda-pemuda Indonesia yang tidak atau belum memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi? Sampai saat ini, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, pemuda yang telah mengenyam pendidikan khususnya di perguruan tinggi baru sekitar 27 % dari total jumlah pemuda Indonesia. Hal ini pula perlu dipertimbangkan pula bagaimana pemuda yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan ikut berkontribusi dalam membangun kemandirian masyarakat, bila perlu malah membuat lapangan pekerjaan sendiri.  Masalah ini dapat terselesaikan salah satu caranya dengan memotivasi terus pemuda Indonesia yang ‘beruntung’ untuk menularkan misi kebermanfaatan ini pada pemuda-pemuda sekitar masyarakat. Misalnya, dicanangkan pada seluruh bidang pengabdian masyarakat di organisasi intra kampus untuk membuat program pemberdayaan tidak hanya yang berorientasi sosial, tetapi mengarah pada bentuk kewirausahaan sosial, dengan sebelumnya melakukan pengkajian yang tepat mengenai sasaran komunitas masyarakat yang akan diberdayakan. Dalam hal ini, pemuda atau mahasiswa yang bukan berasal dari rumpun ekonomi pun dapat belajar banyak hal terkait kewirausahaan sosial. Dengan demikian secara tidak langsung dapat melahirkan bibit baru aktor kewirausahaan sosial.
Kemudian, komunitas yang telah menjadi sasaran program pemberdayaan tersebut dilibatkan secara aktif, disadarkan bahwa seluruh elemen masyarakat yang ada di dalamnya harus bangkit jika ingin meningkatkan kemandirian ekonomi. Dalam hal ini, penulis tidak berbicara mengenai langkah pengambilan kebijakan atau proyek-proyek besar pemerintah, tetapi yang penulis tekankan di sini adalah pemuda dapat berperan dalam kemandirian bangsa melalui kegiatan yang langsung bersentuhan atau berinteraksi dengan masyarakat. Para wirausahawan muda atau mahasiswa yang terlibat dalam program ini dapat ‘membidik’ atau melibatkan secara lebih aktif pemuda-pemuda dalam komunitas tersebut untuk menjadi aktor penggerak atau tim inti dari program kewirausahaan sosial ini. Dengan demikian, meskipun mereka tidak secara formal memahami kewirausahaan sosial, pemuda-pemuda dalam komunitas tersebut bisa ikut berkontribusi untuk meningkatkan kemandirian masyarakat/ komunitasnya dengan keterlibatannya yang aktif dalam program social entrepreneurship.




BAB III
METODE PENULISAN
A.  Teknik dan Alat Pengumpul Data
1.   Teknik Pengumpul Data
Dalam penelitian ini di perlukan teknik pengumpulan data yang di peroleh secara objektif dapat mengungkap masalah yang teliti. Dalam  penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data  sebagai berkut:
a.    Teknik obsevasi langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan cara meninjau secara langsung ke obyek penelitian, yaitu dengan cara observasi  langsung ke SMP Negeri 1 Selakau Timur.
b.    Teknik komunikasi langsung adalah cara mengumpulkan data yang mengharuskan seorang peneliti mengadakan kontak langsung secara lisan atau tatap muka dengan sumber data baik dalam situasi sebenarnya maupun dalan situasi sengaja dibuat untuk keperluan tersebut. Dalam hal ini pengumpulan data di lakukan dengan kontak langsung dengan pihak di SMP Negeri 1 Selakau Timur.
c.    Teknik studi dokumenter adalah cara pengumpulan data dilakukan dengan katagori dan klasifikasi bahan – bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen maupun buku. Teknik ini digunakan karena data yang dikumpulkan adalah data kuantatif melalui dokumen – dokumen tertulis berupa data siswa yang berhenti dan latar belakang pendidikan serta pekerjaan orang tua nya.
2.    Alat Pengumpul Data
Dalam suatu penelitian hal penting yang harus dilakukan adalah bagaimana caranya untuk memperoleh data. Oleh sebab itu di perlukan suatu alat pengumpulan data. Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.    Pedoman wawancara yaitu alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan yang disajikan pedoman untuk wawancara langsung dengan pihak dari SMP Negeri 1 Selakau  Timur.
b.    Lembar daftar siswa yang berhenti dan pendidikan serta pekerjaan orang tua yaitu alat pengumpulan data berupa daftar jumlah siswa yang sekolah  dan daftar siswa yang berhenti beserta alasannya serta daftar pendidikan dan pekerjaan orang tua.

B.  Pengolahan Data
Untuk mengolah data yang sudah terkumpul melalui dokumen dianalisis dan diolah secara kuantitas. Dengan menggunakan perhitungan persentase. Untuk menganalisis data diperlukan langkah-langkah yang ditempuh agar penulis tidak mengalami kesulitan dalam mengolah data selanjutnya Adapun rumus umum penghitungan persentase adalah:
Presentase = Jumlah dicari persentasenya/ jumlah keseluruhan x 100%
Dari rumus di atas, penulis menyesuaikannya dengan data yang akan dihitung, sehingga didapat rumus:
Ps =
Keterangan:
Ps= persentase angka putus sekolah
Sb= siswa berhenti
Js=  jumlah seluruh siswa


BAB IV
PEMBAHASAN
A.  Latar Belakang Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua Siswa
1.    Pendidikan Orang Tua
Tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi sikap pandangnya   terhadap sekolah anaknya dan pendidikan pada umumnya. Ginanjar Kartasasmita menyatakan bahwa 68% kepala keluarga miskin di perkotaan tidak tamat sd (Ginanjar Kartasasmita: Bisnis Indonesia, 1993). Faktor pendidikan orang tua sebagai dampak kemiskinan ini sudah barang tentu berpengaruh terhadap partisipasi mereka terhadap pendidikan. Di SD misalnya, karena mereka tak pernah merasakan menjadi murid SD banyak lagi contoh lainnya. Dapat terjadi sikap – sikapnya tidak memberikan dukungan dan bantuan yang seharusnya terhadap belajar anaknya maupun terhadap sekolah.
Data tersebut di atas umumnya dialami pula oleh SMP Negeri 1 Selakau Timur. Ada faktor persepsi masyarakat terhadap sekolah dimana umumnya terjadi di Selakau Timur menganggap sekolah yang akan menentukan sukses tidaknya seorang peserta didik tanpa mengetahui faktor pendukung keberhasilan lainnya seperti  masyarakat maupun keluarga itu sendiri, ketidaksamaan visi dan persepsi ini kemudian membuat keluarga atau orang tua menjadi tidak serius dengan program sekolah sehingga dengan mudah melakukan pelanggaran yang akan membuat anak tidak ikut belajar, misalnya mengajak anak bepergian tanpa ada pemberitahuan ke sekolah dan banyak lagi contoh lainnya.






 Hal tersebut dapat dilihat dari hasil observasi dengan pihak SMP Negeri 1 Selakau Timur mengenai orang tua siswa yang berhenti  yang sebagai berikut:
Tabel 3
Pendidikan Orang Tua Siswa Yang Berhenti dan Jumlahnya

No
Tahun Pelajaran
Jumlah Siswa Yang Berhenti
Pendidikan Orang Tua Siswa
SD
SMP
SMA
PT
1
2010/2011
20
9
5
4
2
2
2011/2012
12
5
4
2
0
3
2012/2013
27
17
5
3
2
Sumber: SMP Negeri 1 Selakau Timur
Keterangan:
PT= Perguruan Tinggi
      
2.    Pekerjaan orang tua
Kabid Prasekdiksar Disdik Kabupaten Cirebon, Athoilah S.Pd,M.Pd mengatakan tingginya angka putus sekolah kebanyakan karena faktor ekonomi. Anak- anak dari keluarga miskin kebanyakan lebih memilih bekerja membantu orang tuanya dibanding sekolah.
“Ini sebenarnya permasalahan yang kompleks, saya sendiri tidak hafal mengenai anak putus sekolah. Karena yang  tahu itu di subag  pendataan. Tapi anak sd dan smp masih banyak yang putus sekolah. Sangat disayangkan sekali, karena kan ada dana bos dan program Beasiswa Siswa Miskin(BSM),” ujar Athoilah.
Ia mengatakan, anak-anak dari orang tua bermata pencaharian tidak tetap seperti buruh, nelayan dan petani menjadi salah satu penyebabnya. “ orang tua dari anak – anak kurang mampu ini biasanya meminta anak – anak mereka bekerja membantu untuk pemenuhan kebutuhan sehari – hari,” jelas Athoilah. Menurut hasil observasi di SMP Negeri 1 Selakau Timur didapat data sebagai berikut:
Tabel 4
Pekerjaan Orang Tua Siswa yang Berhenti dan Jumlahnya

No
Tahun Pelajaran
Jumlah siswa yang berhenti
Pekerjaan Orang Tua Siswa yang Berhenti
Petani
Swasta
PNS
1
2010/2011
20
13
5
2
2
2011/2012
12
10
2
-
3
2012/2013
27
15
9
3
Sumber: SMP Negeri 1 Selakau Timur
Dari 2 tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa yang berhenti adalan dengan pendidikan SD dan pekerjaan sebagai petani.
B.  Program Kemandirian yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi angka putus sekolah.
Berdasarkan masalah di atas. Adapun Program Kemandirian yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah adalah sebagai berikut:
1.    Pemberian Mata Pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
Pendidikan muatan lokal merupakan salah satu mata pelajaran tambahan yang wajib diselenggarakan di tiap sekolah di Indonesia. Kewajiban ini khususnya mengacu pada peraturan Pemerintah Dinas Pendidikan Nasional (Permen Diknas) No.22 Tahun 2006 Tentang standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP ditegaskan selain memuat mata pelajaran juga memuat lokal yang wajib diberikan pada tiasp tingkat satuan pendidikan.
Pelajaran mulok tersebut sebenarnya bukanlah pelajaran baru di dunia pendidikan di Indonesia. Adapun pelajaran mulok yang sesuai untuk dipelajari di SMP Negeri 1 Selakau Timur menurut penulis antara lain: agro bisnis yaitu mengolah bahan mentah dari hasil pertanian bahan mentah menjadi barang jadi, dan cara pengepakan yang benar sehingga mampu meningkatkan nilai jual bahan tersebut.

2.    Promosi Terhadap Hasil Olahan Siswa
Setelah memproduksi sebuah barang, hal yang selanjutnya dapat dilakukan adalah dengan promosi. Promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli atau mengkonsumsinya. Dengan adanya promosi, produsen atau distributor mengharapkan kenaikannya angka penjualan. 
Promosi dapat dilakukan antara lain dengan:
a.    Disampaikan dari mulut ke mulut
b.    Mengadakan bazar di sekolah
c.    Penitipan ke toko – toko terdekat
d.   Dibuatkan merk dagang
e.    Promosi lewat online

3.    Pendidikan Kewirausahaan
Mata pelajaran ini memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan yang dianggap perlu oleh siswa untuk memperbaiki ekonominya. Oleh karena itu mata pelajaran muatan lokal harus memuat bagaimana cara pengolahan hasil pertanian dan mengangkat permasalahan ekonomi dan lingkungan yang pada akhirnya mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dasar (life skill), sebagai bekal dalam kehidupan sehingga dapat memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Adapun contoh model kegiatan kewirausahaan yang bisa dilakukan siswa adalah dengan bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memasarkan hasil produksinya salah satunya dengan cara bagi hasil. Dengan cara bagi hasil,  pihak sekolah mendapatkan bagian sekitar 20% sedangkan siswa tersebut mendapat 80 %. Dari  hasil penjualan tersebut dapat digunakan sebagai uang jajan dan keperluan lainnya tanpa harus meminta kepada orang tuanya, sehingga dapat meringankan beban orang tua.
 

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
1.      Mayoritas latar belakang pendidikan orang tua siswa yang putus sekolah adalah sampai jenjang SD.
2.      Mayoritas latar belakang pekerjaan orang tua siswa yang putus sekolah adalah sebagai petani.
3.      Program Kemandirian yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah di SMP Negeri 1 Selakau timur yaitu dengan: pendidikan muatan lokal (mulok), promosi hasil olahan siswa dan  pendidikan kewirausahaan.
B.     Saran
1.      Bagi   orang tua siswa hendaknya selalu memberi dukungan dan motivasi kepada anak agar tetap sekolah.
2.      Bagi sekolah hendaknya melaksanakan program kemandirian berupa pengaplikasian mata pelajaran mulok yaitu dengan pengolahan hasil pertanian untuk dapat menambah penghasilan siswa.
3.      Bagi pemerintah setempat hendaknya mengadakan penyuluhan dan pelatihan  terhadap masyarakat khususnya petani untuk mengolah hasil pertanian dari bahan mentah menjadi barang jadi guna meningkatkan nilai jual agar dapat memperbaiki ekonomi keluarga.







DAFTAR PUSTAKA
Http://m.jpnn.com/news.php?id=111535, diakses pada tanggal 4 juni 2013.
http://bos.kemdikbud.go.id/home/about, diakses pada tanggal 4 juni 2013.
http://eprints.undip. Ac.id/11150/1/JURNAL AJENG.pdf, diakses pada tanggal 9 Juni  2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Promosi_(pemasaran), diakses pada tanggal 12 Juni 2013.
http://www.dikti.go.id/files/atur/KTSP-SMK/12.ppt, diakses pada tanggal 12 Juni 2013.
Bappeda Sambas Panduan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Pelajar SLTA Se-Kabupaten Sambas tahun 2013 Bappeda Sambas.
Yuda Dwi Candra Kartika 2010 Penyebab Anak – Anak Putus Sekolah Dan Cara Penanggulangannya www.pdfcrawler.com/102981/wajib-belajar-sembilan-tahun.html, diakses pada tanggal 13 Juni 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar